Rabu, 02 Mei 2012

Usaha Jagung Bakar, Omzet-nya Bisa Rp 12 Juta


KOMPAS.com - Salah satu usaha yang dapat dilaksanakan adalah dengan menggunakan jagung sebagai bahan baku usaha jagung bakar. Pemahaman akan jagung bakar sangat diperlukan karena jagung bakar yang akan dijual tidak sembarang jagung. Menurut beberapa penjual, jagung bakar bonanza sangat diperlukan, terutama yang manis. Kualitas jagung tergantung kesegaran.

Sebaiknya, penjual hanya membeli jagung untuk keperluan dua hari, yaitu hari ini dan hari esok. Jagung dapat dibeli di pasar seharga Rp 1.500 hingga Rp 2.200 per buah.

Selanjutnya, penjual jagung harus membeli bumbu jagung yang sudah tersedia di pasar dan dibeli per satu paket dengan harga sekitar Rp 40.000 hingga Rp 60.000. Jenis bumbu yang tersedia, yaitu bumbu rasa untuk manis dan bumbu pedas. Bumbu ini dapat dipergunakan untuk sekitar 100 jagung.

Bumbu tersebut dioleskan ke jagung setelah jagung dianggap sudah matang pada pemanggangan. Setelah dioleskan, jagung kelihatan menarik dan siap untuk disantap konsumen.

Penjual jagung bakar harus memiliki pemanggang jagung dan menggunakan arang batok kelapa untuk memanggang jagung. Arang batok kelapa bisa dibeli dari beberapa tempat dan bisa dipersiapkan untuk beberapa hari. Satu bungkus arang batok kelapa dapat dibeli senilai Rp 10.000 untuk 50 jagung. Pemanggangan jagung dibuat sedemikian rupa sehingga api batok kelapa bisa mengenai jagung. Berdasarkan pengamatan dari penjual jagung bakar, jarak bara arang batok kelapa dengan jagung sekitar 2 sentimeter. Ketika jagung dibakar sedemikian rupa, penjual melakukan pengipasan terhadap arang batok kelapa sehingga mempunyai bara/api dan jagung diputar agar mempunyai pemangggangan yang merata.

Penjual jagung harus mempunyai gerobak dorong untuk menjajakan jagung. Pada umumnya biaya pembuatan gerobak ini sekitar Rp 400.000 sampai dengan Rp 750.000 serta sekitar Rp 25.000 untuk peralatan pembakaran jagung. Penjualan jagung bakar tersebut selayaknya dilakukan pada malam hari sehingga memerlukan lampu petromaks untuk penerangan setiap hari dan merupakan ciri khas penjual jagung bakar.

Penjualan jagung bakar dapat dilakukan sendiri oleh pihak yang ingin berusaha, tetapi juga bisa dilakukan pegawai. Bila dilakukan sebagai usaha, pemodal bisa mempekerjakan beberapa penjual yang menerima gaji harian. Diberikan juga bonus atas penjualan jagung berdasarkan jumlah jagung yang terjual, tetapi harus mendapatkan jumlah minimum yang terjual setiap harinya.

Penjual bisa menjajakan jagung bakar keliling kompleks perumahan. Hindari keberadaan beberapa penjual jagung dalam satu kompleks. Penjual jagung bisa berkeliling kompleks atau mangkal di tempat strategis. Bila tempat mangkal menetap, harus dipikirkan biaya mangkal atau biaya hubungan sosial. Pemilik bisa melakukan survei ke kompleks tempat penjualan jagung untuk lebih paham akan bisnis yang dilakukan. Bila perlu, pemilik melakukan penjualan untuk satu hari dan tahu persis penjualan tersebut.

Penjual jagung bakar dapat menjual jagung bakar seharga Rp 8.000 sampai dengan Rp 11.000 per satu jagung. Penjual jagung harus bisa melakukan penjualan jagung paling sedikit 40 jagung. Dari penjualan 40 jagung tersebut, omzet minimumnya bisa sekitar Rp 400.000 per hari (atau bisa menjadi Rp 12 juta dalam sebulan). Keuntungan yang diperoleh pemilik atas penjualan jagung tersebut sekitar Rp 3.000 sampai Rp 6.000 per jagung tergantung harga penjualan jagung. Besar keuntungan yang diperoleh masih tergantung jumlah yang terjual.

Pada sisi lain, kebersihan atas gerobak dan peralatan serta jagung yang dijual merupakan faktor penting. Dengan demikian, pemilik atau penjual perlu memeriksa kebersihan sebelum berangkat menjual atau menjajakan jagung bakar.

Risiko
Risiko yang dihadapi pengusaha jagung bakar, antara lain, kualitas jagung yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Jagung yang didapat di pasar bukan jagung bonanza yang manis, tetapi jagung yang biasa rasanya sehingga tidak memuaskan konsumen. Akibatnya, konsumen tidak datang kembali untuk membeli. Ketidakdatangan konsumen mengakibatkan penjualan atau pendapatan menurun sehingga akan menimbulkan kemungkinan kerugian.

Risiko lain, tidak adanya konsumen yang membeli jagung bakar karena konsumen tidak tahu ada penjual jagung bakar dan lokasi penjualan. Informasi penjualan jagung bakar sangat perlu dilakukan oleh penjual. Tempat yang strategis menjadi pilihan yang harus dlakukan oleh penjual agar konsumen datang.

Risiko berikutnya, yaitu risiko cara pelayanan. Penjual jagung bakar melayani konsumen tidak sesuai dengan harapan konsumen.

Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan penjual jagung bakar, yaitu cara penjual melayani konsumen. Rasa hormat dan sikap santun kepada pembeli jagung bakar sangat diperlukan agar pembeli mau datang berulang kali.

(Adler Haymans Manurung, pakar investasi dan keuangan)



Sumber: Kompas Cetak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar